SMA Negeri 8 Balikpapan

Jl. AMD Gunung Empat RT. 14

Unggul, Asri, dan Kreatif

Makanan Lokal

Senin, 09 Februari 2026 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 23 Kali

Di dapur sekolah, ada suatu kesibukan siang itu. Sejumlah murid berada di sana. Dapur tidak hanya identik dengan perempuan. Ada juga murid laki-laki di sana. Mereka semua menjadi satu tim. Tim yang tidak mengenal perbedaan gender.

Mereka sedang menyiapkan masakan kudapan. Makanan khas lokal. Terbuat dari tepung. Di tengahnya ada gula merah. Bentuknya bulat. Bagian luarnya dibalut dengan parutan kelapa. Ukurannya sebesar jempol tangan orang dewasa. 

Makanan itu biasa disebut dengan klepon. 

Makanan ini memang dikategorikan sebagai makanan lokal. Makanan yang sering dijumpai di pasar pasar tradisional. Harganya biasanya tidak mahal. Harga yang terjangkau di kantong masyarakat sekitar. 

Makanan ini akan muncul lebih banyak pada saat bulan Ramadhan. Itu satu di antara makanan favorit untuk berbuka puasa. Rasanya segar dan manis. Rasa manisnya muncul saat makanan itu digigit dan pecah gula merahnya di dalam mulut. Saat makan makanan ini, seseorang harus sekali masuk dalam mulut. Jika digigit di luar mulut, letusan gula merahnya akan berceceran di luar mulut.

Pertanyaannya adalah mengapa mereka membuat makanan itu sendiri? Mengapa mereka repot-repot membuatnya? Mengapa mereka tidak membeli saja? Harganya murah dan mudah didapatkan di mana-mana. 

Menurut mereka, makanan ini harus dibuat sendiri. Makanan ini harus dimasak sendiri di sekolah. Hampir tidak ada bahan ini didapatkan tempat lain. Bahkan di pasar dipastikan tidak ada. Makanan itu dibuat sesuai kearifan lokal di sekolah ini.

Secara umum, makanan ini memang khas lokal. Makanan ini menjadi lebih khas karena dimasak di sekolah ini. Ada sebagian bahan yang harus didapatkan di sekitar sekolah ini. Bahan itu berasal dari buah pohon mangrove tertentu. 

Sebelum memasak ada sebagian murid yang bertugas untuk mencari buah dari pohon mangrove. Tidak semua buah dari pohon mangrove dikumpulkan. Mereka sudah tahu buah dari pohon mangrove yang mana yang akan diambil.

Mereka mengumpulkan buah-buah itu dari pohon mangrove yang ada di sekitar sekolah. Sebagian lahan di sekolah ini ditanami dengan pohon mangrove. Lahan mangrove itu tersambung dengan lahan hutan mangrove milik pemerintah Kota Balikpapan seluas 21 hektar.

Tidak ada kesulitan bagi murid-murid itu untuk menemukan buah mangrove yang bisa dijadikan bahan makanan. Buah-buah mangrove itu kemudian diolah sedemikian rupa sehingga. menjadi sejenis tepung.

Tepung dari buah pohon mangrove itulah yang digunakan sebagai bahan untuk membuat klepon. Sama-sama klepon lokal, tetapi klepon dari sekolah ini adalah klepon mangrove.(aa)

  1. TULISAN TERKAIT